REPORTASEBEKASI.ID, BEKASI – Sekolah Tinggi Teologi Bethesda Bekasi kembali menggelar momentum akademik dan spiritual melalui Wisuda STT Bethesda 2026, yang dilaksanakan pada Sabtu (15/08/2026). Wisuda kali ini menjadi momentum penting dalam perjalanan akademik STT Bethesda karena mencakup Wisuda ke-16 untuk jenjang Strata Satu (S-1) Program Studi Teologi Kependetaan, Wisuda ke-12 untuk jenjang Strata Satu (S-1) Program Studi Pendidikan Agama Kristen, dan Wisuda ke-14 untuk jenjang Strata Dua (S-2) Program Studi Teologi Kependetaan.

Wisuda STT Bethesda 2026 : Wisuda ke-16 untuk jenjang Strata Satu (S-1) Program Studi Teologi, Wisuda ke-12 untuk jenjang Strata Satu (S-1) Program Studi Pendidikan Agama Kristen, dan Wisuda ke-14 untuk jenjang Strata Dua (S-2) Program Studi Magister Teologi.
Mengusung tema “Teguh dalam Kristus, Terang di Tengah Zaman” dengan nats pokok Ibrani 13:8, perhelatan wisuda tidak hanya menjadi seremoni akademik untuk menandai keberhasilan studi para lulusan, tetapi juga menjadi momentum reflektif mengenai panggilan lulusan teologi di tengah perubahan zaman. Pesan tersebut semakin kuat melalui orasi ilmiah yang disampaikan Prof. Dr. Stevri PN Indra Lumintang, D.Th., Ph.D., D.Ed., yang mengajak gereja dan para lulusan untuk membangun kehidupan di atas keteguhan Kristus yang tidak berubah.
Dalam orasinya, Prof. Stevri mengangkat Ibrani 13:8, “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya,” sebagai fondasi teologis bagi keteguhan iman orang percaya. Bagi Prof. Stevri, keteguhan dalam Kristus tidak dapat dipahami sekadar sebagai kemampuan untuk bertahan menghadapi tekanan zaman. Keteguhan merupakan konsekuensi iman kepada Kristus yang tetap sama, sehingga orang percaya memiliki dasar yang kokoh untuk menjalani perubahan tanpa kehilangan identitas iman.
Pesan tersebut memperoleh relevansi yang kuat ketika dikaitkan dengan realitas kehidupan gereja dan masyarakat kontemporer. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, pergeseran nilai, materialisme, ketidakpastian kehidupan, serta berbagai bentuk krisis moral menghadirkan tantangan baru bagi gereja. Namun, menurut perspektif yang dikembangkan dalam orasi tersebut, perubahan zaman pada dasarnya bukan persoalan utama. Persoalan yang lebih mendasar adalah apakah gereja mampu tetap teguh dalam Kristus ketika berhadapan dengan perubahan tersebut.
Prof. Stevri mengingatkan bahwa persoalan yang dihadapi gereja masa kini sesungguhnya memiliki kemiripan dengan persoalan jemaat pada masa Perjanjian Baru. Dalam Ibrani 13:1 sampai 8, umat percaya diingatkan mengenai pentingnya kasih persaudaraan, keramahtamahan, kekudusan hidup, kesetiaan dalam perkawinan, kebebasan dari cinta uang, serta keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Dengan demikian, keteguhan iman tidak berhenti pada wilayah doktrin, tetapi harus terlihat dalam karakter dan praksis kehidupan.
Di sinilah orasi Prof. Stevri menghadirkan kritik penting bagi gereja. Gereja dipanggil untuk hadir di tengah dunia, tetapi tidak kehilangan identitasnya karena terlalu larut dalam pola kehidupan dunia. Gereja perlu melakukan perubahan dan pembaruan, tetapi perubahan tersebut harus tetap berakar pada firman Allah. Dengan kata lain, gereja tidak dipanggil untuk menolak zaman, tetapi juga tidak boleh kehilangan arah karena mengikuti seluruh arus zaman.
Pertanyaan kritis yang kemudian muncul adalah apakah gereja pada masa kini masih menjadi kekuatan yang memengaruhi dunia atau justru semakin banyak dipengaruhi oleh dunia. Persoalan tersebut dapat terlihat dalam berbagai aspek kehidupan gereja, termasuk kepemimpinan, manajemen, pengelolaan keuangan, bentuk ibadah, hingga perkembangan musik gereja. Ketika orientasi gereja bergeser dari Kristus kepada ukuran keberhasilan duniawi, keteguhan iman dapat mengalami erosi secara perlahan.
Dalam perspektif tersebut, menjadi “terang di tengah zaman” berarti menghadirkan kehidupan yang berbeda tanpa mengasingkan diri dari realitas sosial. Terang tidak memiliki makna apabila hanya disimpan bagi dirinya sendiri. Karena itu, keteguhan dalam Kristus harus menghasilkan kesaksian yang dapat dilihat melalui kehidupan, pelayanan, integritas, dan keberpihakan kepada nilai-nilai Kerajaan Allah.
Prof. Stevri juga menempatkan firman Allah sebagai dasar bagi keteguhan orang percaya. Ibrani 13:5 sampai 6 memberikan penegasan bahwa Allah tidak akan membiarkan dan meninggalkan umat-Nya. Keyakinan tersebut menjadi dasar keberanian untuk menghadapi ketidakpastian. Dengan demikian, keteguhan iman bukan terutama bersumber dari kemampuan manusia menguasai keadaan, tetapi dari kepercayaan bahwa kehidupan berada dalam penyertaan Allah.
Pesan ini memiliki arti khusus bagi para wisudawan STT Bethesda. Mereka bukan hanya menyelesaikan sebuah tahapan pendidikan formal, melainkan memasuki ruang pengabdian yang menuntut tanggung jawab teologis, moral, dan spiritual. Gelar akademik yang diperoleh harus bertransformasi menjadi kapasitas untuk melayani, membangun gereja, mendidik umat, serta memberikan kesaksian Kristiani di tengah masyarakat.
Karena itu, pendidikan teologi tidak dapat direduksi menjadi proses transfer pengetahuan. Pendidikan teologi harus menghasilkan pribadi yang memiliki integritas antara apa yang diyakini, apa yang diajarkan, dan bagaimana kehidupan dijalankan. Para lulusan ditantang untuk memperlihatkan bahwa kompetensi akademik memiliki makna ketika diwujudkan dalam keteladanan dan pelayanan yang bertanggung jawab.
Puncak pesan orasi tersebut kembali bermuara pada supremasi Kristus. Ibrani 13:8 menjadi penegasan bahwa di tengah dunia yang terus berubah, terdapat satu dasar yang tidak berubah, yaitu Yesus Kristus. Karena itu, perubahan zaman tidak boleh menjadi alasan bagi gereja untuk kehilangan pusat imannya. Justru karena Kristus tidak berubah, gereja memiliki keberanian untuk menghadapi perubahan tanpa kehilangan arah.
Bagi para lulusan STT Bethesda, pesan tersebut merupakan panggilan untuk membawa identitas akademik dan teologis mereka ke dalam kehidupan nyata. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi orang yang mampu berbicara mengenai Kristus, tetapi juga menjadi pribadi yang kehidupannya memperlihatkan karakter Kristus. Keteguhan iman pada akhirnya harus dapat dibaca melalui integritas, kesetiaan, pelayanan, dan kesaksian.
Wisuda STT Bethesda 2026 dengan demikian tidak berhenti sebagai perayaan keberhasilan akademik. Momentum ini menjadi ruang pengutusan bagi para lulusan untuk memasuki medan pelayanan dan kehidupan masyarakat dengan fondasi iman yang kokoh. Tema “Teguh dalam Kristus, Terang di Tengah Zaman” menjadi relevan karena para lulusan akan menghadapi dunia yang terus berubah, sementara panggilan untuk menghadirkan terang Kristus tetap menjadi tanggung jawab yang tidak berubah.
Orasi Prof. Dr. Stevri PN Indra Lumintang pada akhirnya menyampaikan sebuah pesan sederhana tetapi mendalam: orang percaya tidak dipanggil untuk melarikan diri dari zaman, tetapi untuk hadir di tengah zaman dengan keteguhan yang berakar pada Kristus. Dunia boleh berubah, teknologi boleh berkembang, nilai sosial dapat bergeser, dan tantangan pelayanan dapat semakin kompleks, tetapi dasar iman tetap sama, yaitu Yesus Kristus yang “tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”
Dengan demikian, para wisudawan STT Bethesda 2026 tidak hanya dipanggil untuk membawa gelar akademik, tetapi juga membawa terang. Mereka diutus untuk menjadi pribadi yang teguh dalam Kristus, berintegritas dalam kehidupan, setia dalam pelayanan, dan menjadi terang di tengah zaman. (RSO)
