REPORTASEBEKASI.ID, KOTA BEKASI – Ibadah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Special Ulang Tahun ke-57 Pdt. Dr. J. Yohanes Sihombing, M.Th., berlangsung penuh sukacita dan ucapan syukur, malam ini, Jumat (30/10/2026). Kegiatan yang diselenggarakan di GBI Mawar Sharon, Harapan Indah, Bekasi, ini menjadi momentum untuk merayakan pemeliharaan Tuhan sekaligus merefleksikan perjalanan hidup, panggilan, dan tanggung jawab pelayanan dalam Kerajaan Allah. Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah hamba Tuhan dan jemaat, khususnya dari lingkungan pelayanan gereja di Kota dan Kabupaten Bekasi.

Dalam ibadah tersebut, firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Ir. Irwan Ambarita dengan mengangkat teks Yosua 1:1-9. Melalui tema pembentukan kepemimpinan Yosua, ia menegaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak lahir dalam semalam, melainkan dibentuk melalui proses panjang, kesetiaan, ketaatan, dan pengalaman berjalan bersama Tuhan. Menurutnya, sebelum seseorang dipercaya memimpin dalam tanggung jawab yang lebih besar, Allah terlebih dahulu membentuk karakter dan kualitas kehidupannya, bahkan melalui proses yang tidak selalu terlihat oleh banyak orang.
Mengacu pada perjalanan Yosua, ia menjelaskan bahwa terdapat sejumlah kualitas yang membuat Yosua dipercaya Tuhan untuk melanjutkan kepemimpinan Musa. Yosua memiliki iman yang teguh, pengalaman pelayanan yang nyata, kesetiaan dalam melayani, serta kehidupan yang dipenuhi Roh Tuhan. Hal ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan rohani tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan, jabatan, atau popularitas seseorang, tetapi terutama oleh karakter, integritas, dan kesetiaannya dalam menjalankan kehendak Allah.

Lebih lanjut, Pdt. Irwan Ambarita menjelaskan bahwa proses pergantian kepemimpinan dari Musa kepada Yosua melibatkan tiga unsur penting. Pertama, Tuhan sendiri yang menetapkan Yosua sebagai penerus kepemimpinan. Kedua, Musa memberikan pengakuan dan pengesahan terhadap kepemimpinan Yosua. Ketiga, bangsa Israel menerima Yosua sebagai pemimpin mereka. Ketiga unsur tersebut menunjukkan bahwa suksesi kepemimpinan bukan sekadar proses pergantian figur, melainkan sebuah tanggung jawab yang melibatkan penetapan Tuhan, pengakuan terhadap proses pembentukan, dan penerimaan komunitas yang dipimpin.
Dalam khotbahnya, ia juga menyoroti bagaimana iman Yosua diuji ketika harus menghadapi tantangan besar dalam kepemimpinannya. Ketakutan dapat membuat seseorang berpikir bahwa musuh terlalu kuat dan keadaan tidak mungkin diatasi. Namun, iman mengajarkan bahwa sekalipun tantangan yang dihadapi sangat besar, kesetiaan Tuhan tetap dapat diandalkan. Karena itu, seorang pemimpin tidak boleh hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuannya sendiri, tetapi harus membangun ketergantungan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan. Ia juga mengingatkan pentingnya menjadikan firman Tuhan sebagai strategi utama dalam kepemimpinan, sebagaimana pesan Tuhan kepada Yosua agar tidak menyimpang dari firman-Nya serta senantiasa merenungkannya siang dan malam.
Setidaknya terdapat tiga pelajaran penting yang ditekankan bagi para pemimpin masa kini. Pertama, keberanian seorang pemimpin harus berjalan bersama ketaatan kepada firman Tuhan. Kedua, iman seseorang justru teruji ketika menghadapi situasi sulit dan ketidakpastian. Ketiga, Tuhan membentuk setiap pemimpin melalui proses, sehingga mereka yang dipersiapkan untuk melanjutkan pelayanan harus memiliki keyakinan dan ketergantungan penuh kepada-Nya. Ia mengingatkan bahwa ketika rasa takut datang, setiap orang percaya perlu kembali mengingat janji Tuhan. Dalam konteks tersebut, ia juga menekankan bahwa keberhasilan seorang pria bukan hanya diukur dari pencapaian selama hidupnya, tetapi juga dari warisan rohani yang ditinggalkan bagi generasi berikutnya.
Sementara itu, dalam kesaksian dan ungkapan syukurnya, Pdt. Dr. J. Yohanes Sihombing, M.Th., menyampaikan rasa terima kasih kepada Tuhan atas kasih, kebaikan, perlindungan, dan pemeliharaan-Nya sepanjang perjalanan hidup hingga memasuki usia ke-57 tahun. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pdt. Irwan Ambarita serta seluruh hamba Tuhan dan jemaat yang telah hadir dan mengambil bagian dalam ibadah tersebut. Dengan rendah hati, ia memohon dukungan doa bagi dirinya dan seluruh keluarga agar senantiasa berada dalam penyertaan Tuhan serta terus setia menjalankan panggilan pelayanan.
Momentum ulang tahun tersebut juga menjadi peneguhan kembali komitmen pelayanan Pdt. Yohanes Sihombing yang selama ini mengedepankan tiga prinsip, yakni melayani dengan kasih, mengayomi dengan hati seorang bapa, dan memperlengkapi mereka yang sungguh-sungguh melayani Tuhan. Baginya, bertambahnya usia bukan sekadar pertambahan angka dalam perjalanan kehidupan, melainkan kesempatan untuk semakin memurnikan motivasi, mempertajam panggilan, dan memperluas dampak pelayanan. Selama Tuhan masih memberikan napas kehidupan, ia ingin terus meninggikan nama Yesus, memperluas pelayanan Kerajaan Allah, dan memenangkan lebih banyak jiwa bagi Kristus.
KKR Special Ulang Tahun ke-57 ini menjadi pengingat bahwa usia, pengalaman, dan pencapaian hidup memperoleh makna yang lebih mendalam ketika diarahkan untuk kemuliaan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama. Perjalanan Yosua memberikan pelajaran bahwa kepemimpinan harus dibangun di atas iman, ketaatan, dan kesetiaan, sedangkan perjalanan hidup seorang pelayan Tuhan seharusnya menghasilkan warisan rohani yang dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Semangat tersebut terangkum dalam pesan yang menjadi peneguhan perayaan ulang tahun ini: “Jangan Pernah Menyerah, Maju Terus dan Tetap Semangat.” Segala hormat dan kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus Kristus.
Reporter: Ronald
