Diskusi Publik di Jakarta Soroti Disiplin Ala Militer untuk Anak Nakal: Solusi atau Pelanggaran Hak?

REPORTASEBEKASI.ID, JAKARTA — Sebuah diskusi publik yang menggugah digelar di lantai 3 Tower 3 Pasar Rumput, Jakarta Selatan, Kamis (5/06/2015), dengan tema “Disiplin Ala Militer untuk Anak Nakal: Solusi atau Pelanggaran Hak?”. Kegiatan ini menghadirkan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang—agama, hukum, pendidikan, dan pemerintahan—yang bersatu untuk mencari solusi atas maraknya praktik pelatihan ala militer bagi anak-anak yang dianggap “nakal”.

Pdt. Dr. Jeffri Lilobomba, MA., M.Th., akademisi dari STT IKAT, mengawali diskusi dengan mengajak peserta melihat lebih dalam arti kenakalan anak. Ia menegaskan bahwa banyak anak tidak benar-benar nakal, melainkan terluka dan bingung dalam mengungkapkan perasaan. “Disiplin bukan berarti kekerasan. Kita harus menjadi teladan, bukan algojo,” ujarnya.

Lovely Bintaro, pendiri Akademi Suluh Keluarga, membagikan pengalaman dari komunitas yang ia dampingi. Ia menekankan pentingnya kehadiran emosional orang tua. “Banyak yang ingin menyerahkan anak ke tempat pelatihan keras, tapi tak pernah benar-benar hadir dalam hidup mereka. Anak butuh didengarkan dan dirangkul, bukan hanya dihukum,” katanya haru.

Dari perspektif rohani, Ketua Umum Asosiasi Pendeta Indonesia (API), Pdt. Harsanto Adi S., M.M., M.Th., menegaskan peran gereja dalam merangkul anak-anak yang tersisih. Ia menyampaikan bahwa Yesus sendiri selalu memberi ruang dan kasih bagi anak-anak. “Gereja harus hadir, bukan hanya di mimbar, tetapi dalam kehidupan nyata keluarga,” ujarnya.

Penasehat hukum Pewarna Indonesia, Oloan M. Manik, S.H., M.H., CLA., mengingatkan bahaya praktik pelatihan ala militer yang tidak memiliki legalitas. Ia menyebut bahwa kekerasan dalam bentuk apapun terhadap anak adalah pelanggaran hukum. “Disiplin harus bermartabat dan sesuai dengan hukum. Negara wajib hadir melindungi anak-anak dari praktik keliru ini,” tegasnya.

Sementara itu, anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, August Hamonangan, menegaskan bahwa pendekatan militer bukanlah solusi di Jakarta. Ia menyebut kota ini memiliki banyak fasilitas ramah anak yang belum dimaksimalkan. “Kalau Jakarta disebut kota ramah anak, mengapa masih ada yang memilih tempat keras untuk mendidik mereka? Kita harus lebih peduli dan kreatif,” ujarnya.

Diskusi yang dimoderatori Aushiong Munthe ini menggugah banyak peserta, termasuk seorang ayah yang datang dengan niat mengirim anaknya ke tempat pelatihan, namun akhirnya pulang dengan hati yang berubah. “Saya ingin mulai berbicara dengan anak saya, bukan mengusirnya ke tempat asing,” ucapnya pelan.

Lebih dari sekadar debat antara hukuman dan disiplin, diskusi ini membuka ruang refleksi mendalam bagi orang tua, gereja, lembaga hukum, dan pemerintah: Apakah kita sudah mencintai sebelum menghukum? Dan mungkinkah pemulihan anak-anak dimulai bukan di barak pelatihan, tetapi di pelukan keluarga sendiri?.

Reporter: Ronald

Editor: Ronald

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *