Pancasila sebagai Jembatan Pelayanan Gereja di Tengah Keberagaman Indonesia

Pancasila sebagai Jembatan Pelayanan Gereja di Tengah Keberagaman Indonesia

Penulis: Ronald Stevly Onibala, M.Pd.K., M.Th

Dosen Sekolah Tinggi Teologi Bethesda | Alumni TOT III Taplai Lemhannas RI 2022 | Gembala Jemaat GBI Gracia Kota Harapan Indah Bekasi | email: ronald.stevly.onibala@gmail.com

Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai momentum untuk mengingat kembali dasar negara yang telah mempersatukan bangsa yang terdiri dari berbagai suku, budaya, bahasa, dan agama. Dalam konteks kehidupan berbangsa, Pancasila bukan hanya fondasi negara, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai kelompok masyarakat untuk hidup dalam damai dan saling menghormati.

Bagi gereja di Indonesia, Pancasila memiliki peran penting sebagai ruang bersama yang memungkinkan pelayanan gereja dijalankan secara bebas, bertanggung jawab, dan tetap menghargai keberagaman yang ada. Gereja dipanggil bukan hanya untuk melayani jemaat, tetapi juga menghadirkan kasih Kristus bagi seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun status sosial.

Pancasila dalam Pemikiran Bung Karno

Gagasan Pancasila pertama kali diperkenalkan oleh Soekarno dalam pidatonya pada 1 Juni 1945 di sidang BPUPKI. Dalam pidato tersebut, Bung Karno menjelaskan bahwa Indonesia merdeka harus dibangun di atas sebuah philosofische grondslag atau dasar filsafat yang mampu mempersatukan seluruh rakyat Indonesia yang beragam.

Bung Karno melihat bahwa keberagaman bangsa Indonesia bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang harus dirangkul dalam satu kesatuan nasional. Ia bahkan menyebut semangat persatuan tersebut sebagai bentuk gotong royong, yang menurutnya merupakan sari pati dari Pancasila.

Dalam berbagai penjelasan mengenai pidato 1 Juni 1945, Pancasila dipahami sebagai hasil kesepakatan luhur para pendiri bangsa yang mampu menjadi “jembatan emas” bagi lahirnya Indonesia merdeka dan tetap menjaga persatuan di tengah perbedaan.

Gereja dan Panggilan Kebangsaan

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, gereja memiliki tanggung jawab untuk menghidupi nilai-nilai Pancasila dalam pelayanan sehari-hari. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa mengingatkan gereja untuk tetap teguh dalam iman kepada Tuhan sekaligus menghormati kebebasan beragama yang dijamin negara. Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mendorong gereja untuk melayani tanpa diskriminasi. Nilai Persatuan Indonesia mengajak gereja menjadi pembawa damai di tengah berbagai perbedaan.

Tokoh gereja Indonesia, Eka Darmaputera, dalam bukunya Pancasila dan Pencarian Identitas Bangsa Indonesia, menjelaskan bahwa Pancasila merupakan titik temu seluruh elemen bangsa yang memungkinkan masyarakat Indonesia hidup bersama dalam perbedaan. Menurutnya, Pancasila bukan ancaman bagi iman Kristen, melainkan ruang publik yang memungkinkan setiap agama menjalankan panggilannya secara bertanggung jawab dalam kehidupan berbangsa.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh T. B. Simatupang dalam berbagai tulisannya mengenai hubungan gereja dan negara. Simatupang menegaskan bahwa gereja harus menjadi mitra pembangunan bangsa dengan menghadirkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan sosial, politik, dan kebudayaan tanpa kehilangan identitas kekristenannya.

Pelayanan Gereja dalam Perspektif Keberagaman

Di tengah masyarakat yang majemuk, pelayanan gereja tidak boleh bersifat eksklusif. Gereja dipanggil menjadi agen rekonsiliasi, perdamaian, dan persaudaraan. Bentuk pelayanan tersebut dapat diwujudkan melalui kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan, bantuan kemanusiaan, dialog lintas agama, serta keterlibatan aktif dalam menjaga kerukunan masyarakat.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan menegaskan bahwa ajaran dasar gereja Injili tidak bertentangan dengan semangat keberagaman yang terkandung dalam Pancasila. Justru nilai-nilai Kristen dapat berjalan seiring dengan prinsip hidup bersama dalam masyarakat plural selama gereja tetap mengedepankan kasih, penghormatan, dan tanggung jawab sosial.

Penelitian lain mengenai pembangunan gereja dan kerukunan umat beragama menunjukkan bahwa kerja sama antarumat beragama menjadi faktor penting dalam menciptakan stabilitas sosial dan memperkuat persatuan bangsa. Dalam hal ini, gereja memiliki peran strategis untuk membangun relasi yang harmonis dengan seluruh elemen masyarakat.

Sementara itu, kajian tentang internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam pelayanan rohani menunjukkan bahwa nilai solidaritas, keadilan sosial, dan persatuan dapat diwujudkan melalui pelayanan gereja yang kontekstual dan berorientasi pada kepentingan bersama. Pelayanan rohani tidak hanya berbicara mengenai kehidupan spiritual, tetapi juga membangun kesadaran kebangsaan dan tanggung jawab sosial sebagai warga negara.

Pancasila sebagai Jembatan Pelayanan Gereja

Pancasila memberikan landasan yang kokoh bagi gereja untuk melaksanakan panggilannya di tengah masyarakat Indonesia yang plural. Melalui Pancasila, gereja dapat hadir sebagai sahabat bagi semua golongan, menjadi pembawa damai dalam perbedaan, serta menghadirkan kasih Kristus secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

Hari Lahir Pancasila menjadi pengingat bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan kesempatan untuk membangun persaudaraan yang lebih kuat. Sebagaimana cita-cita Bung Karno tentang Indonesia yang bersatu dalam perbedaan, gereja juga dipanggil untuk menjadi jembatan kasih yang menghubungkan berbagai kelompok masyarakat demi terwujudnya Indonesia yang damai, adil, toleran, dan sejahtera.

Dengan demikian, menghidupi Pancasila dalam pelayanan gereja bukan berarti mengurangi identitas iman Kristen, melainkan menunjukkan bahwa iman yang dewasa akan menghasilkan kasih, penghormatan, dan kontribusi nyata bagi bangsa. Di tengah keberagaman Indonesia, Pancasila tetap menjadi jembatan yang mempertemukan iman, pelayanan, dan semangat kebangsaan demi kemuliaan Tuhan dan kebaikan bersama. Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026.

Kepustakaan:

[1]: https://www.warganegara.org/blog/pidato-1-juni-1945-kelahiran-pancasila/
[2]: https://www.merdeka.com/peristiwa/bpip-jabarkan-pidato-bung-karno-1-juni-1945-jembatan-emas-indonesia-merdeka-174289-mvk.html?
[3]: https://www.ojs.seabs.ac.id/index.php/Veritas/article/view/616? “The Exclusivism of the Evangelical Church in Indonesia and the Spirit of Pluralism in Pancasila: Can the Two Go Together? | Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan”
[4]: https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/25560? “Peran Kementerian Agama dalam Pembangunan Gereja | Jurnal Pendidikan Tambusai”
[5]: https://ejurnal-unisap.ac.id/index.php/abdiunisap/article/view/473? “Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila melalui Pelayanan Rohani dalam Ibadah Syukur Kementerian PUPR | ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *