Hari Perdamaian Dunia, PEWARNA dan GMRI Serukan Kepemimpinan Berbasis Pengabdian dan Pengorbanan

REPORTASEBEKASI.ID, JAKARTA –  Dalam momentum Hari Perdamaian Dunia, Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) DKI Jakarta bersama Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI), Nusantara Centre, dan Semar Cipta Surya Kencana Amalindo menggelar Dialog dan Refleksi Nyata untuk Perdamaian bertajuk “Kitab Ma Ha Is Maya: Pandangan dan Pesan Hari Perdamaian Dunia” di Gedung Juang Semar Suryakencana, Jalan H. Juanda Raya, Jakarta Pusat, Senin (21/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang pengenalan dan sosialisasi kitab yang selanjutnya direncanakan dibedah secara terbuka dengan menghadirkan Presiden Prabowo Subianto.

Dialog yang dipandu Ketua PEWARNA Indonesia DKI Jakarta, Johan Sopaheluwakan, menghadirkan sejumlah penanggap, yakni Direktur Nusantara Centre Yudhi Haryono, penulis dan pemerhati spiritualitas Jacob Ereste, Romo Narjo, serta Ketua Umum PEWARNA Indonesia Yusuf Mujiono. Kegiatan diawali dengan sambutan Anggota DPRD DKI Jakarta, August Hamonangan. Forum tersebut tidak hanya membicarakan gagasan perdamaian, tetapi juga mengangkat persoalan kepemimpinan, moralitas, spiritualitas, kebangsaan, serta tanggung jawab seorang pemimpin terhadap masyarakat.

Yudhi Haryono menilai kehadiran kitab tersebut merupakan sebuah terobosan yang relevan di tengah kecenderungan masyarakat yang semakin individualistis dan lebih mementingkan kepentingan diri sendiri. Menurutnya, kondisi tersebut juga tercermin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang dinilainya semakin koruptif sejak era pemerintahan Presiden Joko Widodo. Ia menyoroti perilaku memperkaya diri yang menurutnya terjadi hampir di berbagai lini, mulai dari tokoh pemimpin organisasi keagamaan, pejabat kementerian, hingga pucuk pimpinan perusahaan swasta.

Menurut Yudhi, harapan terhadap para pemimpin, termasuk tokoh agama dan rohaniwan, turut tergerus oleh sikap hidup yang materialistis dan individualistis. Kondisi tersebut, katanya, membuat kehidupan berbangsa dan bernegara semakin sulit. Karena itu, ia berharap kehadiran kitab tersebut dapat memberikan warna baru dalam kepemimpinan sekaligus mendorong masyarakat dan para pemimpin untuk kembali kepada jati diri bangsa.

Sementara itu, Romo Narjo menyoroti pentingnya memahami konsep bangsa yang berketuhanan, bukan semata-mata bangsa yang beragama, karena pembicaraan mengenai Tuhan bersifat universal. Ia juga menekankan pentingnya generasi muda memahami Pancasila sebagai bagian dari upaya mengembalikan jati diri bangsa. Dalam waktu dekat, Romo Narjo menyampaikan akan meluncurkan buku mengenai Pancasila bagi generasi muda, dengan harapan dapat turut membangun ketangguhan bangsa dan melahirkan kepemimpinan yang mumpuni.

Ketua Umum PEWARNA Indonesia Yusuf Mujiono memandang kitab tersebut sebagai sebuah nilai yang mengajak setiap orang terlebih dahulu mampu memimpin dirinya sendiri. Menurutnya, seseorang tidak mungkin dapat memimpin orang lain apabila tidak memiliki landasan etika dan moral yang kuat. Ia menegaskan bahwa keinginan untuk mengubah dunia harus dimulai dari kemampuan mengubah dan memimpin diri sendiri, sebab kepemimpinan tanpa fondasi moral hanya akan kehilangan arah.

Tokoh penting dalam lahirnya buku tersebut, Eko Sriyanto Galgendu, menegaskan bahwa “kepemimpinan bukan kekuasaan, tetapi pengabdian dan pengorbanan.” Ia menyebut terdapat empat pilar kepemimpinan sejati yang kembali diingatkan melalui kitab tersebut, yakni karakter dan keberanian, kehormatan tanah air, empati sejati, serta semangat progresif. Menurut Eko, pemimpin tidak seharusnya mengejar jabatan atau kemewahan, tetapi dipanggil oleh nilai luhur dan doa rakyat. Tanah air harus dipandang sebagai harga diri bangsa dan warisan leluhur untuk generasi mendatang, sementara empati berarti pemimpin sungguh merasakan penderitaan rakyat. Adapun semangat progresif diwujudkan melalui kerja nyata, kejujuran, kebersamaan, dan kemajuan yang merata.

Eko juga menekankan bahwa pemimpin politik tidak dapat berjalan sendirian dan membutuhkan pendamping yang memegang teguh nilai spiritual agar kekuasaan tidak membutakan mata dan menutup telinga. Menurutnya, dibutuhkan sosok yang mampu memadukan kelembutan hati dengan keteguhan pendirian serta tidak mudah tergoda oleh pujian maupun ancaman. Dalam kesempatan tersebut, August Hamonangan mengapresiasi terbitnya buku karya Eko Galgendu yang merupakan salah seorang warga DKI Jakarta. Anggota DPRD DKI Jakarta dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu menyebut undangan memberikan sambutan dalam kegiatan bedah kitab sebagai aktivitas yang berbeda dari agenda yang selama ini lebih banyak berkaitan dengan persoalan sosial dan politik warga. Ia menilai DKI Jakarta merupakan ruang bagi berbagai aktivitas warga yang terus berkembang dan ke depan akan menampung aktivitas bisnis serta sosial dengan fasilitas yang semakin modern. August menegaskan bahwa dirinya merupakan wakil bagi seluruh kepentingan warga DKI Jakarta. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *