Menakar Peluang Pdt. Jhonny W. Weol Kembali Memimpin MP GPdI pada MUBES 2027

Menakar Peluang Pdt. Jhonny W. Weol Kembali Memimpin MP GPdI pada MUBES 2027

Oleh: Pdt. Ronny Steven Onibala

Menjelang Musyawarah Besar (MUBES) Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) tahun 2027, dinamika mengenai siapa yang akan memimpin Majelis Pusat (MP) GPdI periode 2027–2032 tentu menjadi perhatian banyak pihak. Kontestasi kepemimpinan dalam organisasi gerejawi sebesar GPdI bukan sekadar persoalan siapa yang memiliki dukungan suara terbanyak, tetapi juga menyangkut rekam jejak pelayanan, kapasitas kepemimpinan, pengalaman organisasi, kemampuan membangun jejaring, serta kemampuan menjaga persatuan gereja.

Dalam konteks tersebut, nama Pdt. Dr. Jhonny W. Weol, M.M., M.Th., M.Div. menjadi salah satu figur yang sangat diperhitungkan. Bahkan, apabila seluruh modal kepemimpinan tersebut ditakar secara objektif, beliau memiliki peluang yang sangat besar untuk kembali memenangkan kontestasi Ketua Umum MP GPdI periode 2027–2032.

Tentu, pernyataan tersebut bukan berarti menutup kemungkinan munculnya kandidat lain. MUBES adalah ruang demokrasi organisasi. Setiap figur memiliki kesempatan untuk menawarkan gagasan, rekam jejak, dan visi kepemimpinan. Namun, dalam membaca sebuah kontestasi, realitas politik organisasi tidak dapat dilepaskan dari modal kepemimpinan yang telah dibangun sebelumnya.

Jakarta dan Keuntungan Strategis Kepemimpinan

Salah satu faktor yang patut diperhitungkan adalah posisi strategis tempat pelayanan Pdt. Jhonny Weol di DKI Jakarta. Sebagai gembala jemaat besar di wilayah yang menjadi pusat pemerintahan negara, beliau memiliki aksesibilitas yang relatif lebih dekat dengan berbagai institusi pemerintahan pusat.

Dalam konteks organisasi gereja nasional, kedekatan geografis dengan pusat pemerintahan bukan sekadar persoalan lokasi. Ia dapat menjadi modal strategis dalam membangun komunikasi, sinergi, dan hubungan kelembagaan dengan kementerian, lembaga negara, serta Direktorat Jenderal Bimas Kristen.

Hal ini menjadi semakin relevan karena GPdI merupakan organisasi gereja yang memiliki jaringan pelayanan luas di seluruh Indonesia, bahkan di luar negeri. Hubungan kelembagaan yang baik dengan pemerintah dapat memberikan kontribusi terhadap aspek legalitas, perlindungan, komunikasi kelembagaan, dan pengakuan terhadap eksistensi organisasi.

Keuntungan strategis lainnya adalah keberadaan Kantor Majelis Pusat GPdI di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Kedekatan antara pusat organisasi dan wilayah pelayanan beliau menciptakan efisiensi tertentu dalam koordinasi. Dalam praktik organisasi yang membutuhkan komunikasi cepat dan intensif, faktor kedekatan tersebut tidak dapat sepenuhnya diabaikan.

Jakarta juga merupakan salah satu pusat aktivitas ekonomi dan jaringan bisnis nasional. Karena itu, posisi pelayanan di Jakarta dapat menjadi modal dalam membangun kemitraan strategis serta menggalang berbagai sumber daya untuk mendukung program pelayanan GPdI berskala nasional.

Rekam Jejak Akan Menjadi Modal Penting

Dalam sebuah kontestasi kepemimpinan, retorika tentu penting. Namun, rekam jejak sering kali berbicara lebih kuat daripada retorika.

Pdt. Jhonny Weol memiliki portofolio pelayanan yang menjadi salah satu modal utama dalam menghadapi MUBES 2027. Salah satu yang menonjol adalah pembangunan lebih dari 500 gereja lokal permanen di berbagai daerah pedalaman, pedesaan, dan wilayah terpencil.

Jika angka tersebut dibaca bukan sekadar sebagai statistik, maka terdapat sebuah pesan strategis mengenai orientasi pelayanan. Pembangunan gereja di wilayah yang secara geografis dan ekonomis tidak selalu mudah menunjukkan adanya perhatian terhadap perluasan pelayanan GPdI hingga ke daerah-daerah yang membutuhkan kehadiran gereja.

Semangat tersebut sejalan dengan slogan GPdI: “Di mana ada manusia, di situ harus dilayani“.

Dengan demikian, pembangunan gereja tidak semata-mata dapat dibaca sebagai pembangunan infrastruktur fisik. Di baliknya terdapat dimensi misi, penginjilan, penggembalaan, dan perluasan pelayanan gereja.

Di sisi lain, perhatian terhadap penginjil perintisan serta optimalisasi Sekolah Alkitab (SA) GPdI juga menjadi bagian dari modal pelayanan yang patut diperhitungkan. Gereja tidak mungkin bertumbuh hanya dengan membangun gedung. Gereja membutuhkan manusia yang dipersiapkan untuk melayani, menginjili, menggembalakan, dan membuka ladang pelayanan baru.

Incumbent Advantage: Pengalaman yang Tidak Bisa Diabaikan

Faktor berikutnya adalah pengalaman birokrasi organisasi. Pdt. Jhonny Weol bukan figur yang baru memasuki struktur kepemimpinan MP GPdI.

Beliau pernah menjabat sebagai Bendahara Umum MP GPdI, kemudian Wakil Ketua Umum MP GPdI, dan selanjutnya menjadi Ketua Umum MP GPdI selama dua periode, 2017–2022 dan 2022–2027.

Pengalaman tersebut memberikan apa yang dalam perspektif politik organisasi disebut sebagai incumbent advantage. Seorang petahana memiliki pengalaman langsung dalam mengelola organisasi, memahami mekanisme internal, mengenal struktur pelayanan, memahami karakteristik daerah, serta memiliki pengalaman berhadapan dengan berbagai persoalan organisasi.

Lebih dari itu, pengalaman selama dua periode sebagai Ketua Umum memberikan pengetahuan yang tidak dapat diperoleh hanya melalui teori atau diskusi. Ia merupakan pengalaman empiris dalam mengelola organisasi gerejawi dengan kompleksitas wilayah pelayanan yang sangat luas.

Karena itu, dalam membaca peluang Pdt. Jhonny Weol pada MUBES 2027, pengalaman tersebut merupakan salah satu variabel yang sangat penting.

GPdI Adalah Kita, Kita Adalah GPdI

Kontestasi kepemimpinan gereja selalu memiliki potensi menghadirkan faksionalisme. Perbedaan pilihan, dukungan, dan preferensi politik organisasi merupakan sesuatu yang hampir tidak mungkin dihindari dalam sebuah proses demokratis.

Di sinilah karakter kepemimpinan menjadi penting.

Pdt. Jhonny Weol dikenal memiliki pendekatan kepemimpinan yang merangkul. Prinsip “GPdI adalah Kita, Kita adalah GPdI” mencerminkan gagasan bahwa gereja tidak boleh terjebak dalam dikotomi kelompok pendukung dan kelompok yang tidak mendukung.

Setelah memenangkan MUBES yang ketat, beliau selalu berupaya meredam faksionalisme dengan merangkul rival-rival politik gerejawinya ke dalam struktur kepengurusan. Pendekatan seperti ini penting karena kemenangan dalam MUBES bukanlah tujuan akhir.

Kemenangan dalam MUBES justru merupakan awal dari pekerjaan yang jauh lebih besar, yaitu menyatukan seluruh elemen organisasi untuk kembali bekerja bagi kepentingan gereja dan pelayanan.

Dalam konteks tersebut, kemampuan merangkul menjadi modal kepemimpinan yang tidak kalah penting dibandingkan kemampuan memenangkan kontestasi.

Ketika Kepemimpinan Diuji oleh Krisis

Kepemimpinan yang sesungguhnya tidak hanya terlihat ketika organisasi berada dalam keadaan stabil. Karakter seorang pemimpin justru sering terlihat ketika menghadapi tekanan, kritik, isu, bahkan serangan politik.

Pdt. Jhonny Weol telah menghadapi berbagai dinamika tersebut. Di tengah berbagai terpaan isu maupun serangan black campaign, beliau memilih menjaga ketenangan dan menyerahkan pembuktian pada kebenaran Tuhan.

Sikap semacam ini tentu tidak berarti bahwa seorang pemimpin harus menghindari kritik. Sebaliknya, kritik merupakan bagian dari kehidupan organisasi yang sehat. Namun, kemampuan mengelola tekanan tanpa membiarkan organisasi terjebak dalam konflik berkepanjangan merupakan kualitas kepemimpinan yang penting.

Dalam organisasi gerejawi, resiliensi kepemimpinan memiliki dimensi yang lebih luas. Pemimpin tidak hanya bertanggung jawab terhadap efektivitas organisasi, tetapi juga terhadap stabilitas pelayanan, ketenangan jemaat, dan kesatuan tubuh Kristus.

MUBES 2027: Antara Kalkulasi Manusia dan Kehendak Tuhan

Jika seluruh faktor tersebut diletakkan dalam satu kerangka analisis, maka peluang Pdt. Jhonny Weol untuk kembali memimpin MP GPdI periode 2027–2032 memang terlihat sangat kuat.

Posisi strategis di Jakarta memberikan keuntungan akses dan jejaring. Rekam jejak pembangunan gereja memberikan legitimasi kinerja. Pengalaman sebagai Bendum dan Waketum, serta dua periode sebagai Ketua Umum memberikan keuntungan sebagai petahana. Kemampuan merangkul kelompok yang berbeda memberikan modal untuk menjaga stabilitas organisasi. Sementara ketahanan menghadapi berbagai tekanan menjadi bagian dari pengalaman kepemimpinannya.

Namun, seluruh kalkulasi tersebut pada akhirnya tetap merupakan kalkulasi manusia.

MUBES 2027 bukan hanya tentang siapa yang memiliki jaringan paling luas, siapa yang memiliki rekam jejak paling kuat, atau siapa yang memiliki dukungan paling besar. Bagi GPdI sebagai gereja, ada dimensi spiritual yang tidak boleh dihilangkan dari proses demokrasi organisasi.

Karena itu, sebesar apa pun modal politik, organisatoris, sosial, ekonomi, dan spiritual yang dimiliki seorang kandidat, keputusan akhirnya tetap berada pada Tuhan melalui para hamba Tuhan GPdI yang memiliki hak suara dalam MUBES 2027.

Pada titik inilah demokrasi gerejawi menemukan dimensinya yang khas. Manusia berusaha, kandidat menawarkan visi, para pemilih mempertimbangkan rekam jejak, organisasi menjalankan mekanisme konstitusional, tetapi Tuhan tetap menjadi sumber dan penentu terakhir dari perjalanan pelayanan gereja-Nya.

Maka, apabila pertanyaannya adalah apakah Pdt. Dr. Jhonny W. Weol memiliki modal yang kuat untuk kembali memimpin MP GPdI periode 2027–2032, jawabannya adalah ya, modal tersebut sangat kuat.

Tetapi apakah beliau pasti terpilih?

Jawabannya tetap berada di tangan Tuhan dan melalui keputusan para hamba Tuhan GPdI dalam MUBES 2027.

Sebab pada akhirnya, kepemimpinan gereja bukan hanya tentang memenangkan suara, tetapi tentang memenangkan kepercayaan dan mempertanggungjawabkan mandat pelayanan di hadapan Tuhan.

Salam Pantekosta!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *