Guru sebagai Orang Tua di Sekolah: Studi Kepustakaan tentang Peran Relasional Guru dalam Mendukung Perkembangan Holistik Siswa
Ronald Stevly Onibala, M.Pd.K., M.Th.
Dosen STT Bethesda
Email: ronald.stevly.onibala@gmail.com
Abstrak
Hubungan guru dan siswa tidak dapat direduksi menjadi relasi instruksional yang semata-mata berorientasi pada penyampaian materi dan pencapaian akademik. Dalam praktik pendidikan, guru juga berhadapan dengan kebutuhan emosional, sosial, moral, dan personal siswa yang memengaruhi proses belajar. Karena itu, ungkapan bahwa guru merupakan “orang tua di sekolah” memiliki relevansi pedagogis apabila dimaknai secara proporsional sebagai peran pendampingan dan pengasuhan pendidikan, bukan sebagai penggantian kedudukan orang tua dalam keluarga. Artikel ini bertujuan menganalisis secara kritis konstruksi peran guru sebagai figur orang tua di lingkungan sekolah serta implikasinya bagi perkembangan holistik siswa. Penelitian menggunakan metode studi kepustakaan dengan menelaah artikel ilmiah dan hasil penelitian relevan, terutama publikasi periode 2021 sampai 2026. Literatur dianalisis secara interpretatif dengan mengidentifikasi tema mengenai dukungan guru, relasi guru dan siswa, dukungan emosional, keterlibatan keluarga, dan kemitraan sekolah serta keluarga. Hasil kajian menunjukkan bahwa guru memiliki posisi strategis sebagai figur relasional yang dapat memberikan rasa aman, dukungan emosional, orientasi akademik, penguatan karakter, serta fasilitasi perkembangan sosial siswa. Namun, efektivitas peran tersebut sangat bergantung pada kualitas relasi, kompetensi pedagogis dan sosial guru, serta komunikasi yang sehat antara sekolah dan keluarga. Dengan demikian, konsep guru sebagai orang tua di sekolah perlu direkonstruksi dari paradigma pengganti orang tua menuju paradigma kemitraan pengasuhan pendidikan yang menempatkan siswa sebagai subjek utama pendidikan.
Kata kunci: guru, orang tua, siswa, relasi guru dan siswa, dukungan emosional, pendidikan holistik, studi kepustakaan.
Pendahuluan
Sekolah pada hakikatnya bukan hanya ruang untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga ruang sosial tempat siswa membangun identitas, mengembangkan kemampuan interpersonal, memperoleh pengalaman moral, dan belajar memahami dirinya serta lingkungan. Konsekuensinya, kualitas pendidikan tidak cukup diukur melalui pencapaian akademik. Relasi yang terbentuk antara siswa dengan orang-orang dewasa yang berada di lingkungan sekolah turut menentukan bagaimana siswa mengalami proses pendidikan tersebut. Dalam konteks inilah posisi guru menjadi penting karena guru merupakan salah satu figur dewasa yang paling sering berinteraksi dengan siswa dalam kehidupan sekolah.
Ungkapan “guru adalah orang tua siswa di sekolah” telah lama digunakan dalam wacana pendidikan. Namun, ungkapan tersebut perlu ditempatkan secara kritis. Guru tidak dapat menggantikan orang tua dalam seluruh fungsi keluarga, sebab keluarga dan sekolah memiliki mandat, konteks, serta tanggung jawab yang berbeda. Persoalannya bukan apakah guru dapat menggantikan orang tua, melainkan bagaimana guru dapat menjalankan fungsi pendampingan yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman pendidikan yang aman, bermakna, dan manusiawi.
Kajian mutakhir memperlihatkan bahwa dukungan guru memiliki hubungan dengan keterlibatan dan capaian belajar siswa. Meta-analisis terhadap 71 artikel empiris menemukan adanya hubungan positif antara dukungan guru yang dipersepsikan siswa dan prestasi akademik. Hubungan tersebut sebagian dimediasi oleh keterlibatan siswa, baik secara perilaku, kognitif, maupun emosional. Menariknya, dukungan emosional menunjukkan pengaruh yang lebih besar dibandingkan dukungan akademik maupun dukungan otonomi terhadap pencapaian akademik.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa dimensi relasional dalam pekerjaan guru bukanlah tambahan yang berada di luar proses pembelajaran. Sebaliknya, relasi menjadi salah satu mekanisme yang memungkinkan proses pembelajaran berlangsung secara efektif. Siswa yang merasa diperhatikan dan didukung memiliki kondisi psikologis yang lebih memungkinkan untuk terlibat dalam kegiatan belajar. Dengan demikian, peran guru sebagai figur pendamping memiliki konsekuensi langsung terhadap kualitas pengalaman pendidikan siswa.
Kajian sistematis lainnya menunjukkan bahwa guru dapat menjadi figur keterikatan bagi siswa, khususnya pada pendidikan dasar, dan relasi guru serta siswa dapat berfungsi sebagai basis emosional yang mendukung penyesuaian siswa terhadap lingkungan sekolah dan perkembangan perilakunya. Relasi guru dan siswa bahkan berkaitan dengan penyesuaian akademik serta perilaku internalisasi dan eksternalisasi siswa.
Berdasarkan konteks tersebut, artikel ini mengajukan pertanyaan utama: bagaimana literatur ilmiah mutakhir menjelaskan posisi guru sebagai figur yang menjalankan fungsi pendampingan seperti orang tua di sekolah, dan apa implikasinya terhadap perkembangan holistik siswa? Pertanyaan ini penting karena konsep “guru sebagai orang tua” berpotensi menghasilkan pemahaman yang produktif, tetapi juga dapat menjadi problematis apabila diterjemahkan sebagai legitimasi bagi guru untuk mengambil alih seluruh fungsi keluarga.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif interpretatif. Studi kepustakaan dipilih karena objek penelitian bukan pengalaman langsung guru atau siswa dalam suatu sekolah tertentu, melainkan konstruksi konseptual mengenai peran relasional guru yang telah dibahas dalam berbagai penelitian sebelumnya.
Literatur yang dianalisis terutama berasal dari artikel jurnal ilmiah yang diterbitkan pada periode 2021 sampai 2026. Penelusuran diarahkan pada tema teacher support, teacher-student relationship, teacher care, emotional support, family-school partnership, dan student engagement. Literatur kemudian dibaca secara tematik dengan memperhatikan hubungan antara dukungan guru, kualitas relasi, keterlibatan siswa, perkembangan akademik, perkembangan sosial emosional, dan hubungan sekolah dengan keluarga.
Secara epistemologis, kajian ini tidak memandang literatur sebagai kumpulan fakta yang berdiri sendiri. Temuan penelitian terdahulu dibaca sebagai konstruksi pengetahuan yang lahir dari konteks sosial, psikologis, dan pendidikan tertentu. Oleh karena itu, sintesis dilakukan dengan mempertanyakan bagaimana konsep “dukungan guru” dibentuk, fungsi apa yang dilekatkan kepadanya, serta batas-batas konseptual yang perlu dipertahankan ketika istilah tersebut diterjemahkan ke dalam konteks “guru sebagai orang tua di sekolah”.
Guru sebagai Figur Relasional dalam Pendidikan
Pemahaman tradisional mengenai guru sering kali menempatkan guru terutama sebagai sumber pengetahuan. Model tersebut menjadikan keberhasilan guru identik dengan kemampuan menyampaikan materi, mengelola kelas, dan melakukan evaluasi pembelajaran. Meskipun ketiga fungsi tersebut tetap penting, penelitian kontemporer menunjukkan bahwa pengalaman siswa terhadap guru memiliki dimensi relasional yang jauh lebih luas.
Relasi guru dan siswa terbentuk melalui interaksi sehari-hari. Cara guru mendengarkan, memberikan respons, menunjukkan kepedulian, menetapkan batas, memberikan umpan balik, serta memperlakukan siswa dalam situasi berhasil maupun gagal membentuk persepsi siswa terhadap keamanan dan kebermaknaan lingkungan sekolah. Penelitian Zhang dan kolega menunjukkan bahwa teacher care memiliki hubungan positif dengan kualitas hubungan guru dan siswa. Penelitian longitudinal mereka juga menemukan hubungan prediktif dua arah antara kepedulian guru dan kualitas relasi guru serta siswa.
Temuan tersebut penting karena menunjukkan bahwa kepedulian bukan sekadar atribut moral yang abstrak. Kepedulian guru beroperasi melalui relasi konkret yang dialami siswa. Dengan kata lain, siswa tidak hanya membutuhkan guru yang “menguasai pelajaran”, tetapi juga guru yang mampu membangun relasi yang membuat proses belajar terasa aman dan bermakna.
Dalam perspektif tersebut, istilah “orang tua di sekolah” dapat dipahami sebagai metafora pedagogis. Guru menghadirkan sebagian fungsi relasional yang dibutuhkan siswa selama berada di sekolah, seperti memberikan perhatian, membimbing, menegur, mengarahkan, melindungi, dan mendorong siswa untuk berkembang. Namun, fungsi tersebut tidak identik dengan fungsi orang tua dalam keluarga. Batas ini penting agar relasi pendidikan tidak berubah menjadi relasi yang terlalu personal atau mengaburkan tanggung jawab institusional guru.
Dukungan Emosional sebagai Bagian dari Tugas Pendidikan
Salah satu temuan penting dalam literatur adalah meningkatnya perhatian terhadap dukungan emosional guru. Pendidikan yang hanya berorientasi pada kemampuan kognitif berisiko mengabaikan kondisi psikologis yang memungkinkan siswa belajar secara optimal. Siswa datang ke sekolah dengan latar belakang keluarga, pengalaman sosial, kondisi emosional, dan persoalan personal yang berbeda. Karena itu, respons guru terhadap kondisi tersebut dapat memengaruhi keterlibatan siswa dalam pembelajaran.
Meta-analisis Tao, Meng, Gao, dan Yang menunjukkan bahwa dukungan guru berkorelasi positif dengan prestasi akademik dan keterlibatan siswa. Dukungan emosional bahkan menunjukkan pengaruh yang relatif lebih besar dibandingkan beberapa bentuk dukungan guru lainnya.
Penelitian lain juga memperlihatkan bahwa dukungan guru berkaitan dengan academic buoyancy, yaitu kemampuan siswa menghadapi kesulitan akademik sehari-hari, serta berhubungan dengan keterlibatan belajar dan perkembangan keterampilan akademik. Temuan tersebut ditemukan pada konteks siswa sekolah dasar dan sekolah menengah dalam konteks negara yang berbeda.
Secara interpretatif, temuan tersebut menunjukkan bahwa guru bukan hanya berfungsi sebagai fasilitator pengetahuan, tetapi juga sebagai salah satu sumber daya sosial yang membantu siswa menghadapi tekanan dan tantangan belajar. Dalam konteks ini, “menjadi orang tua di sekolah” bukan berarti guru harus mengambil alih persoalan pribadi siswa, tetapi berarti guru memiliki tanggung jawab profesional untuk menciptakan relasi yang memungkinkan siswa merasa dihargai, didengar, dibimbing, dan diarahkan.
Guru, Keterlibatan Siswa, dan Keberhasilan Belajar
Hubungan antara guru dan siswa juga memiliki konsekuensi terhadap keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Keterlibatan tidak hanya berkaitan dengan kehadiran siswa secara fisik di ruang kelas, tetapi juga mencakup keterlibatan perilaku, kognitif, dan emosional. Karena itu, siswa yang duduk di kelas belum tentu benar-benar hadir secara pedagogis.
Meta-analisis mengenai dukungan guru menunjukkan bahwa keterlibatan siswa menjadi salah satu mekanisme yang menjelaskan hubungan antara dukungan guru dan pencapaian akademik. Artinya, dukungan guru tidak selalu menghasilkan prestasi secara langsung. Dukungan tersebut dapat terlebih dahulu membentuk kondisi psikologis dan relasional yang meningkatkan keterlibatan siswa, kemudian keterlibatan tersebut berkontribusi terhadap pencapaian akademik.
Penelitian lain mengenai hubungan guru dan siswa juga menemukan bahwa relasi tersebut berpengaruh terhadap keterlibatan akademik melalui mekanisme dukungan sosial dan pengalaman siswa dalam menghadapi tekanan akademik.
Hal tersebut memberikan implikasi penting bagi praktik pendidikan. Guru yang terlalu berorientasi pada penyelesaian materi dapat kehilangan kesempatan untuk membaca kondisi siswa. Sebaliknya, guru yang membangun relasi secara reflektif memiliki peluang lebih besar untuk memahami mengapa seorang siswa tidak terlibat, bukan sekadar menyimpulkan bahwa siswa tersebut malas atau tidak memiliki motivasi.
Dengan demikian, peran guru sebagai figur orang tua perlu dipahami sebagai praktik pedagogis yang mengintegrasikan kompetensi akademik dan kompetensi relasional. Guru tetap harus mengajar, menilai, dan menjaga standar akademik, tetapi pada saat yang sama perlu memahami siswa sebagai manusia yang sedang bertumbuh.
Guru Bukan Pengganti Orang Tua
Meskipun konsep guru sebagai orang tua memiliki nilai pedagogis, terdapat batas konseptual yang tidak boleh diabaikan. Guru bukan pengganti orang tua. Sekolah dan keluarga merupakan dua lingkungan pendidikan yang berbeda, tetapi saling berhubungan.
Penelitian mengenai peran guru, orang tua, dan siswa dalam konferensi orang tua dan guru menunjukkan bahwa ketiga pihak memiliki peran yang berbeda dalam membangun komunikasi dan kolaborasi antara rumah dan sekolah. Kajian sistematis terhadap 33 penelitian dari 13 negara memperlihatkan bahwa konferensi orang tua dan guru menyediakan ruang penting untuk membangun kolaborasi, tetapi juga membutuhkan kompetensi komunikasi dari guru dan pemahaman yang jelas mengenai peran masing-masing pihak.
Temuan yang lebih baru mengenai kemitraan keluarga dan sekolah juga menunjukkan bahwa kolaborasi antara keluarga dan sekolah dapat memperluas dukungan yang tersedia bagi siswa. Dalam kajian sistematis terhadap berbagai inisiatif kemitraan keluarga dan sekolah, dukungan yang lebih kuat terhadap siswa muncul ketika keluarga dan sekolah melakukan koordinasi secara bersama, bukan ketika salah satu pihak mengambil alih fungsi pihak lainnya.
Dengan demikian, istilah “guru sebagai orang tua di sekolah” harus ditempatkan dalam kerangka kemitraan pendidikan. Guru memiliki mandat profesional di sekolah, sementara orang tua memiliki tanggung jawab utama dalam kehidupan keluarga. Keduanya bertemu pada kepentingan yang sama, yaitu pertumbuhan dan kesejahteraan anak.
Dari Guru sebagai Pengajar Menuju Guru sebagai Pendamping Pertumbuhan
Literatur yang ditelaah menunjukkan bahwa konsep guru perlu bergerak dari paradigma pengajar menuju paradigma pendamping pertumbuhan. Perubahan ini bukan berarti mengurangi pentingnya kompetensi akademik guru. Justru sebaliknya, kompetensi akademik menjadi lebih bermakna ketika berada dalam relasi pendidikan yang sehat.
Kajian sistematis mengenai dukungan guru dalam pengembangan strategi regulasi belajar bersama menunjukkan bahwa interaksi guru dan siswa dapat berfungsi sebagai faktor protektif bagi kesejahteraan siswa sekaligus mendukung capaian akademik. Guru dapat membantu siswa melalui pemberian arahan, pemantauan perkembangan kelompok, pertanyaan pemantik, serta dukungan terhadap proses regulasi belajar.
Perspektif tersebut mengubah cara memahami “kepedulian guru”. Kepedulian bukan berarti guru selalu membenarkan siswa, memberikan perlakuan istimewa, atau menghindarkan siswa dari konsekuensi kesalahan. Kepedulian justru dapat diwujudkan melalui ketegasan yang mendidik. Guru yang peduli tidak hanya mengatakan “saya memahami kamu”, tetapi juga berani mengatakan “kamu perlu memperbaiki ini” dengan cara yang tetap menjaga martabat siswa.
Dalam konteks pendidikan karakter, relasi semacam itu sangat penting. Siswa belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan guru, tetapi juga dari cara guru memperlakukan manusia. Ketika guru menunjukkan keadilan, empati, tanggung jawab, disiplin, dan konsistensi, nilai-nilai tersebut menjadi pengalaman hidup yang dapat diinternalisasi siswa.
Tantangan dan Batas Etis
Konsep guru sebagai orang tua juga mengandung risiko apabila diterapkan tanpa batas profesional. Ekspektasi bahwa guru harus menjadi “orang tua” dapat memperluas tuntutan terhadap guru secara tidak proporsional. Guru dapat dibebani tanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan keluarga, sosial, psikologis, bahkan ekonomi siswa yang sesungguhnya berada di luar kapasitas profesionalnya.
Karena itu, kepedulian guru perlu dibangun dalam kerangka etika profesi. Guru perlu mengetahui kapan harus memberikan pendampingan langsung dan kapan harus merujuk siswa kepada konselor, psikolog, pimpinan sekolah, tenaga kesehatan, atau pihak keluarga. Pendekatan demikian justru menunjukkan profesionalisme karena kepedulian tidak disamakan dengan mengambil alih semua persoalan siswa.
Kajian tentang kesejahteraan guru juga menunjukkan bahwa kualitas kesejahteraan guru memiliki hubungan dengan relasi guru dan siswa serta sejumlah luaran pendidikan. Namun, bukti kausal masih terbatas pada sebagian penelitian sehingga hubungan tersebut perlu dipahami secara hati-hati.
Artinya, sekolah tidak dapat menuntut guru untuk selalu menjadi figur yang sabar, peduli, dan tersedia secara emosional tanpa membangun sistem yang mendukung kesejahteraan dan kapasitas profesional guru. Guru yang kelelahan secara emosional akan menghadapi kesulitan untuk membangun relasi pendidikan yang sehat secara konsisten.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil studi kepustakaan, guru memiliki posisi strategis sebagai figur relasional dalam kehidupan siswa di sekolah. Peran guru tidak berhenti pada pengajaran akademik, tetapi mencakup pemberian dukungan emosional, pembentukan relasi yang aman, pendampingan proses belajar, penguatan karakter, serta fasilitasi perkembangan sosial siswa. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas dukungan dan relasi guru berkaitan dengan keterlibatan, kesejahteraan, penyesuaian sekolah, dan pencapaian akademik siswa.
Namun demikian, konsep “guru sebagai orang tua” tidak boleh dimaknai sebagai penggantian fungsi orang tua. Pemaknaan tersebut lebih tepat ditempatkan dalam kerangka relasional dan kemitraan pendidikan. Guru menghadirkan fungsi pendampingan selama siswa berada di sekolah, sedangkan keluarga tetap menjadi lingkungan utama dalam pengasuhan kehidupan anak. Keduanya tidak seharusnya dipertentangkan, tetapi dihubungkan melalui komunikasi dan kerja sama yang konstruktif.
Dengan demikian, guru yang ideal bukan hanya guru yang mampu menjawab pertanyaan siswa tentang pelajaran, tetapi juga guru yang mampu memahami manusia di balik proses belajar. Guru tidak harus menjadi orang tua biologis bagi siswanya. Akan tetapi, selama berada di sekolah, guru dapat menjadi figur dewasa yang membuat siswa merasa aman untuk belajar, berani bertumbuh, bersedia memperbaiki kesalahan, dan percaya bahwa dirinya memiliki masa depan.
Pada titik inilah makna terdalam dari ungkapan “guru sebagai orang tua di sekolah” dapat ditemukan. Guru bukan pengganti keluarga, melainkan mitra keluarga dalam menghadirkan ruang pendidikan yang memungkinkan anak berkembang secara utuh sebagai manusia.
Daftar Pustaka
Endedijk, H. M., Breeman, L. D., van Lissa, C. J., Hendrickx, M. M. H. G., den Boer, L., & Mainhard, T. (2022). The teacher’s invisible hand: A meta-analysis of the relevance of teacher-student relationship quality for peer relationships and the contribution of student behavior. Review of Educational Research, 92(3). https://doi.org/10.3102/00346543211051428
García-Rodríguez, L., Iriarte Redín, C., & Reparaz Abaitua, C. (2023). Teacher-student attachment relationship, variables associated, and measurement: A systematic review. Educational Research Review, 38, 100488. https://doi.org/10.1016/j.edurev.2022.100488
Jia, M., & Cheng, J. (2024). Effect of teacher social support on students’ emotions and learning engagement: A U.S.-Chinese classroom investigation. Humanities and Social Sciences Communications, 11, 158.
Liu, X. (2024). Effect of teacher-student relationship on academic engagement: The mediating roles of perceived social support and academic pressure. Frontiers in Psychology, 15. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2024.1331667
Ma, L., & Liu, J. (2022). The association between teacher-student relationship and academic achievement: The moderating effect of parental involvement. Psychology in the Schools. https://doi.org/10.1002/pits.22608
Tao, Y., Meng, Y., Gao, Z., & Yang, X. (2022). Perceived teacher support, student engagement, and academic achievement: A meta-analysis. Educational Psychology, 42(4), 401–420. https://doi.org/10.1080/01443410.2022.2033168
Zhang, Z., Wang, Y., Deng, W., Ma, X., & Qi, C. (2025). The impact of teacher care on teacher-student relationship: Evidence from cross-sectional and longitudinal data. Frontiers in Psychology, 16, 1551081. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1551081
Wong, T. K., et al. (2024). A meta-analysis of the association between teacher support and school engagement. Social Development. https://doi.org/10.1111/sode.12745
