KEPEMIMPINAN YANG MELAYANI DAN MENGINSPIRASI DALAM KONTEKS GEREJA
Oleh: Amistan Purba, S.Si (Teol.), SE, MM.
1. PENGANTAR
Kepemimpinan mempunyai peranan yang fundamental dan menentukan dalam menjalankan roda organisasi, memastikan kinerja suatu intitusi, dan terlebih menentukan stabilnya aktivitas suatu institusi. Kepepemimpinan merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat diabaikan dalam aktivitas suatu organisasi atau suatu komunitas untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan. Pemimpin ibarat seorang nakhoda yang harus memastikan ke haluan mana kapal dengan penumpangnya akan diarahkan.
Kepemimpinan secara universal adalah kapabilitas untuk mempengaruhi, memotivasi, dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Tujuan dari kepemimpinan diantaranya: menginspirasi dan mendidik, mengembangkan tim, menghadapi transformasi, meningoptimalkan produktivitas, membantu menargetkan prosedur kerja, menstimulasi orang lain.
Kepemimpinan berdasarkan Alkitab adalah kapabilitas untuk melayani, memimpin, dan mengikutsertakan orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang melayani, berdasarkan kasih, kebenaran dan kerendahan hati.
Kepemimpinan konteks gereja berbeda dengan kepemimpinan pada universalnya karena gaya kepemimpinannya harus berpangkal dari Alkitab sebagai parameter integritas. Peran kepemimpinan adalah tanggung jawab rohani, dan orang-orang yang dipimpin adalah suatu kredo yang diberikan dan harus dipertanggungjawabkan.
Baik atau buruknya konteks suatu pelayanan gereja termasuk juga skala lebih besar dalam organisasi, bangsa dan negara, sangat ditentukan oleh kualitas pemimpinnya dan kepemimpinan yang dimanifestasikannya.
2. KEPEMIMPINAN YANG MELAYANI DAN MENGINSPIRASI KONTEKS GEREJA
Adanya sebuah paradoks ketika kita mengombinasikan konsep sebagai pemimpin dengan konsep melayani. Pemimpin biasanya dilayani, dan orang yang melayani biasanya bukanlah pemimpin. Secara universal para hamba-hamba Tuhan yang melayani di gereja masih berorientasi mempunyai mindset sebagai pemimpin atau “boss” yang ingin dilayani. Jika gereja harus berada pada objek esensialnya sebagai institusi yang melayani dan bukan dilayani maka setiap pemimpin yang melayani gereja harus memahami dan melaksanakan esensial gereja yang melayani. Jika, esensial gereja sebagai institusi yang melayani dibalikkan dengan ambisi sewenang-wenang sang pelayan sebagai pemimpin, maka berdampak sirnanya kasih, kesatuan dan nilai-nilai spiritualitas dalam pelayanannya sehingga tidak mengherankan banyak terjadi kontroversi internal gereja. Banyak orang ingin menjadi pemimpin tetapi tidak mengantisipasi kapabilitasnya untuk menyelesaikan tanggung jawabnya.
Kepemimpinan yang melayani dan menginspirasi dalam konteks gereja adalah kepemimpinan yang didasarkan pada prinsip pelayanan dan kasih, serta menginspirasi orang lain untuk menjadi lebih baik.
Prinsip-prinsip kepemimpinan yang melayani dan menginspirasi dalam konteks gereja:
Servant leadership
Pemimpin gereja harus melayani dan mengabdikan identitas untuk kepentingan orang lain, bukan untuk mencari kekuasaan atau pengakuan.
Meneladani Yesus
Yesus adalah teladan terbaik dalam mengintegrasikan kepemimpinan dengan pelayanan yang penuh kasih.
Menghargai masukan
Pemimpin gereja harus menghargai masukan dari semua pihak dan menumbuhkan kolaborasi yang saling memberi manfaat.
Mencerminkan nilai-nilai dan iman
Pemimpin gereja harus memimpin bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan karya nyata yang mencerminkan nilai-nilai dan iman.
Contoh pemimpin gereja yang melayani dan menginspirasi: Musa, Daud, Paulus, Yesus Kristus.
Ciri-ciri kepemimpinan yang melayani dalam konteks gereja, antara lain:
Mengutamakan kebutuhan orang lain daripada kebutuhan sendiri
Menekankan pelayanan, bukan mendominasi
Tidak mengejar kebesaran atau kuasa
Mengabdikan diri untuk kepentingan orang lain
Menjunjung tinggi kesejahteraan bersama
Memiliki sikap hati yang rendah
Berinvestasi dalam pengembangan dan kesejahteraan orang lain.
Ciri-ciri kepemimpinan yang menginspirasi dalam konteks gereja
Mengutamakan pelayanan, pengorbanan, dan tidak mementingkan diri sendiri
Mengabdikan diri untuk kepentingan orang lain, bukan hanya untuk mencari kekuasaan atau penghormatan.
Memengaruhi, mengajak, mendorong, mengatur, dan memberdayakan
Membangun kepercayaan dan menginspirasi orang lain untuk mengikutinya
Kepemimpinan yang melayani dan menginspirasi dalam konteks gereja dapat menghasilkan dampak positif, seperti:
Meningkatkan loyalitas dan komitmen anggota gereja
Menumbuhkan integritas baik dan dedikasi dalam pelayanan gereja
Membentuk pola pikir orang lain yang berorientasi pada pelayanan
Manfaat kepemimpinan pelayan di gereja adalah cara yang efektif untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, persatuan, dan pertumbuhan rohani dalam jemaat. Dengan mengikuti teladan Yesus Kristus dan menerapkan kepemimpinan pelayan, para pemimpin gereja dapat menciptakan lingkungan yang memelihara dan inklusif di mana kasih Kristus bersinar melalui karya dan pelayanan mereka.
3. PEMIMPIN YANG MELAYANI DALAM KONTEKS PASTORAL
Pelayanan pastoral tidak dapat dihindarkan dari apa yang disebut dengan kepemimpinan. Pemimpin dalam konteks pelayanan pastoral adalah pemimpin yang melayani dan melayani sebagai pemimpin. Seorang pemimpin teratas di dalam pelayanan pastoral sering disebut sebagai seorang gembala sidang, yang kepadanya disematkan gelar kependetaan oleh organisasi yang menaunginya.
Pemimpin gereja sebagai servant leadership adalah pemimpin yang melayani jemaatnya dengan mengutamakan kebutuhan mereka. Pendeta sebagai servant leardership adalah pemimpin yang melayani jemaatnya dengan menerapkan prinsip-prinsip Alkitab.
Karakteristik servant leadership yaitu sebagai berikut:
Mendengarkan (listening)
Servant leader mendengarkan dengan penuh perhatian kepada orang lain, mengidentifikasi dan membantu memperjelas keinginan kelompok, juga mendengarkan suara hati dirinya sendiri;
Empati (empathy)
Pemimpin yang melayani adalah mereka yang berusaha memahami rekan kerja dan mampu berempati dengan orang lain;
Penyembuhan (healing)
Servant leader mampu membuat pemulihan perasaan dan hubungan dirinya, atau hubungan dengan orang lain, karena hubungan merupakan kekuatan untuk transformasi dan integrasi;
Kesadaran (awareness)
Kesadaran untuk memahami persolan yang melibatkan etika, kekuasaan, dan nilai-nilai. Melihat situasi dari posisi yang seimbang yang lebih terintegrasi;
Persuasi (persuasion)
Pemimpin yang melayani berusaha meyakinkan orang lain ketimbang memaksa kepatuhan. Ini adalah satu hal yang paling membedakan antara model otoriter tradisional dengan servant leadership;
Konseptualisasi (conceptualization)
Kemampuan melihat masalah dari perspektif konseptualisasi berarti berfikir secara jangka panjang atau visioner dalam basis yang lebih luas;
Kejelian (Foresight)
Jeli atau teliti dalam memahami pelajaran dari masa lalu, realitas saat ini, dan kemungkinan konsekuensi dari keputusan untuk masa depan;
Keterbukaan (Stewardship)
Menekankan keterbukaan dan persuasi untuk membangun kepercayaan dari orang lain.
Komitmen untuk Pertumbuhan (Commitment to the growth of people)
Tanggung jawab untuk melakukan usaha dalam meningkatkan pertumbuhan profesional sumber daya manusia dan organisasi.
Membangun Komunitas (Building community)
Mengidentifikasi cara untuk membangun komunitas.
Selain itu, seorang yang berjalan di depan dan memimpin orang lain dan harus tahu ke mana ia membawa mereka dari titik awal sampai titik akhir. Untuk semuanya itu, seorang harus memiliki visi dan pemahaman akan strategi-strategi untuk sampai pada sasaran. Kepemimpinan adalah suatu fungsi dari visi. Visi adalah antisipasi suatu perjalanan dengan tujuan akhir.
4. TUJUAN PELAYANAN PARA PEMIMPIN KONTEKS GEREJA
Pemimpin bukanlah orang yang berjalan sendirian karena dia juga adalah bagian dari mereka yang dipimpinnya sebab dia bertanggung jawab atas keadaan. Seorang pemimpin yang mengenal efektif mereka yang dipimpinnya akan lebih mampu menginspirasikan mereka untuk berubah secara positif dan menuntun mereka untuk berjalan terus menuju arah yang benar. Dia akan memotivasi mereka baik lewat contoh (teladan) maupun perkataannya sendiri biarpun ada rintangan, perlawananan, kejahatan atau kesusahan yang dihadapinya.
Tujuan pelayanan para pemimpin dalam gereja adalah untuk memperlengkapi anggota jemaat agar mampu melakukan pelayanan kepada sesama. Pemimpin gereja juga diharapkan untuk menumbuhkan budaya kasih, inklusivitas, dan dukungan dalam komunitas gereja.
Berikut adalah beberapa hal yang dilakukan oleh pemimpin gereja:
Mengajarkan Firman Tuhan
Membangun kedewasaan iman jemaat
Membantu jemaat aktif dalam ibadah
Memotivasi jemaat untuk mengambil bagian dalam tugas pelayanan
Menjalankan disiplin gereja untuk mencegah jemaat hidup dalam skandal
Menata organisasi gereja agar pelayanan dan kesaksian kepada dunia berjalan dengan baik.
Pemimpin gereja dipanggil oleh Tuhan untuk melayani dengan sukacita dan tulus. Mereka harus mengabdikan diri untuk kepentingan orang lain, bukan untuk mencari kekuasaan atau penghormatan.
Apa tujuan dari pelayanan di gereja?
Tujuan pelayanan kepada Tuhan untuk memperkenalkan Kristus kepada banyak orang agar mereka mengenal Dia dan hidup di dalam Dia.
Fokus pelayanan bukanlah agar terjadi kultus individu dan penghormatan kepada diri sendiri atau seseorang.
Pemimpin pelayan berorientasi pada pelayanan, bukan untuk mencari pujian atau penghormatan diri. Pelayanan nyata didorong oleh rasa cinta kasih, bukan untuk mencari popularitas atau memperoleh kepentingan tertentu.
Selain itu, kepemimpinan bukan hanya soal kepintaran, tetapi juga soal hati. Dasar apa yang diperankan oleh Yesus sebagai kekuatan dalam kepemimpinan yang melayani?
1) Spiritualitas
Yesus tahu apa yang akan dilakukan (misi-Nya) ditengah dunia, ada pekerjaan besar. Dan pekerjaan besar tantangannya juga pasti besar (godaan iblis: tawaran mengubah batu menjadi roti (pragmatis), menjatuhkan diri dan malaikat akan menolong (oportunis); menyembah iblis dan akan mendapat segala sesuatu (materialis). Setiap kepemimpinan yang melayani atau orang yang berkepentingan dalam pelayanan Tuhan harus menjauhi sifat-sifat pragmatis, oportunis dan materialis, sebab ketiganya ini sangat mengganggu bahkan bisa merusak pelayanan dalam tubuh Kristus.
2) Ketulusan
Yesus sadar sepenuhnya bahwa medan pelayanan bukanlah lahan untuk mencari kenikmatan dan kepuasan pribadi. Sehingga Ia seringkali berhadapan dengan tantangan yang sangat besar, dan Ia tidak menghindar.. Dari situ kita belajar bahwa komunitas/medan pelayanan bukanlah lahan untuk mencari kesenangan. Dalam hal berorganisasi, dalam komunitas orang percaya itu dibentuk berdasarkan panggilan Allah melalui Kristus sendiri. Karena itu bagi seorang pemimpin komunitas (organisasi gereja) bukanlah tempat untuk mencari kesesuaian, tetapi tempat untuk mengabdikan diri (memasukkan diri kedalam tubuh gereja sebagai identitas/panggilan kristianinya). Diperlukan ketulusan untuk hanya mengabdi kepada Allah (rela berkorban; belajar tahan uji ketika dicemaskan dan dicela, bisa menahan diri ketika direndahkan; tulus menempatkan pendiriannya demi tegaknya aturan atau keputusan bersama; tetap setia sekalipun idenya tidak diterima; tahan untuk tidak mengambil nilai-nilai yang menjadi pilihannya secara sendiri dan bersama-sama dapat melaksanakan ketaatan real).
PENUTUP
Kepemimpinan sangat fundamental dalam kehidupan bersama, baik organisasi sekuler maupun gerejawi. Tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpin gereja merupakan kredo Allah untuk melayani Allah dan jemaat-Nya. Motivasi dasar dalam melayani pelayanan sebagai pemimpin gereja ialah persekutuan yang hidup dengan Tuhan dan membina hubungan dengan jemaat-Nya sebagai dedikasi.
Kepemimpinan yang benar bagi pemimpin gereja adalah mengikuti Yesus sebagai Pelayan, Gembala. Kualitas seorang pemimpinan gereja tidak ditentukan oleh kepintaran atau keterampilan memimpin tetapi oleh kesungguhan dalam melayani, menggembalakan dan menata jemaat yang dipercayakan kepadanya.
Kepemimpinan gereja sangat fundamental bagi pertumbuhan dan kesejahteraan gereja manapun. Tim kepemimpinan yang kuat dapat membantu membimbing jemaat menjalani situasi-situasi dilematis, menginspirasi orang lain untuk mengikuti Kristus, dan memberikan arahan untuk masa depan.
Refleksi teologis kepemimpinan yang melayani dan menginspirasi dalam konteks gereja adalah kepemimpinan yang berdasarkan Alkitab dan teladan Yesus Kristus. Kepemimpinan ini mengutamakan pada pelayanan, kesejahteraan, dan kebaikan bersama.
Penulis adalah Akademisi, Pemerhati Ekonomi dan Sosial. Tinggal di Harapan Indah, Bekasi Jawa Barat.
