Sekolah Galatia Bekasi Rayakan Hari Sumpah Pemuda dengan Seni Budaya dan Permainan Tradisional

REPORTASEBEKASI.ID, KOTA BEKASI – Semangat persatuan dan kecintaan terhadap budaya Indonesia mewarnai peringatan Hari Sumpah Pemuda di Sekolah Galatia, Bekasi, Rabu (28/10/2026). Mengusung tema “Permainan Tradisional Indonesia” dengan subtema “Warisan Budaya Bangsa Indonesia”, kegiatan ini menghadirkan rangkaian acara yang memadukan upacara bendera, pertunjukan seni dari setiap jenjang pendidikan, hingga permainan tradisional yang mengajak anak-anak dan remaja kembali mengenal kekayaan budaya Nusantara.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.00 WIB tersebut dirancang bukan sekadar menjadi peringatan seremonial, melainkan juga ruang pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik TK, SD, SMP, dan SMA Galatia. Melalui kegiatan bersama, para siswa diajak memahami bahwa semangat Sumpah Pemuda tidak hanya dikenang melalui sejarah, tetapi juga diwujudkan dalam kebersamaan, kreativitas, persahabatan, dan kecintaan terhadap budaya Indonesia.

Diawali Upacara Bendera dan Penghayatan Sumpah Pemuda

Peringatan dimulai dengan doa pembukaan dan upacara bendera yang menjadi momen penting untuk mengenang perjuangan para pemuda Indonesia dalam membangun persatuan bangsa.

Upacara dipimpin oleh Kentji sebagai pemimpin upacara, dengan Zelda bertugas sebagai protokol. Keiko membacakan ikrar Sumpah Pemuda, Keren membacakan Undang-Undang Dasar, Nia bertugas sebagai dirigen, dan Ribka memimpin doa. Sementara itu, pengibaran bendera Merah Putih dilaksanakan oleh Perkin, Michel, dan Adel.

Pembina upacara, Bu Vera, memimpin jalannya kegiatan yang menjadi pembuka seluruh rangkaian peringatan. Suasana upacara mengingatkan seluruh peserta bahwa keberagaman merupakan kekuatan bangsa dan persatuan menjadi fondasi penting bagi masa depan Indonesia.

Setelah upacara, peserta berpindah ke lokasi acara utama. Kegiatan dilanjutkan dengan kata sambutan dari Bu Rita sebelum memasuki rangkaian pertunjukan seni dan budaya.

TK Galatia Tampilkan Tarian dan Nyanyian Anak Nusantara

Kemeriahan mulai terasa ketika siswa-siswi TK Galatia tampil melalui pentas musik, tarian, dan nyanyian. Dengan pendampingan Miss Joana, Bu Yohana, dan Bu Destina, anak-anak menunjukkan keberanian serta kreativitas mereka di hadapan para guru dan peserta kegiatan.

Alexander Jessen, Giovanna Mauren, Giovana Corradeo, Kimberly Feodora Liu, Vincent Andian Lokollo, Benaya Hope Sihombing, Ezekiel Felix Tondang, Giorgino Maximilian, Jaeden Fernandes Lili, Theodorus Yonathan, Jeremy, Liora Vioneta, Grace, Catrine, Thania, dan Viyoza menjadi bagian dari penampilan yang membawa suasana ceria.

Melalui pentas sederhana yang dikemas dengan musik dan gerakan, siswa-siswi usia dini diperkenalkan pada budaya Indonesia dengan cara yang sesuai dengan dunia mereka. Penampilan ini sekaligus menjadi kesempatan untuk membangun rasa percaya diri, kebersamaan, dan kecintaan terhadap seni sejak usia dini.

SD Galatia Hadirkan Tari Tradisional dari Berbagai Kelas

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan tari tradisional gabungan siswa SD kelas 1 hingga kelas 6.

Di bawah pendampingan Bu Marta, Bu Magdalena, dan Bu Sarah, siswa-siswi SD Galatia memperlihatkan semangat dalam mempelajari dan menampilkan seni tari tradisional. Penampilan melibatkan siswa kelas II, III, IV, V, dan VI. Mereka tampil bersama dalam rangkaian pertunjukan yang mengangkat kekayaan budaya Indonesia.

Keterlibatan berbagai kelas menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui kegiatan bersama yang melibatkan seluruh jenjang pendidikan. Anak-anak tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga belajar menghargai tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

SMP Galatia Perpaduan Band, Lagu Daerah, dan Tari Tradisional

Suasana semakin meriah ketika siswa-siswi SMP Galatia menghadirkan penampilan band, nyanyian, dan tari tradisional.

Band SMP yang dibimbing Bu Elfra membawakan lagu-lagu tradisional, antara lain “Cublak-Cublak Suweng”, “Teteh Awewe”, dan “Tabolakbale”. Sheila, Dhea, William, Greg, Heseperos, dan Fureto tampil dalam pertunjukan musik yang menggabungkan semangat generasi muda dengan kekayaan lagu daerah.

Selain musik, siswa-siswi SMP juga menampilkan tari tradisional dengan pendampingan Bu Meysa. Evelyn, Felicia, Sasa, Gisel, dan Feby menjadi bagian dari penampilan tersebut.

Perpaduan band dan tari tradisional menjadi salah satu bentuk menarik dalam memperkenalkan budaya Indonesia kepada generasi muda. Lagu-lagu daerah yang dibawakan melalui format musik anak muda memberikan ruang bagi tradisi untuk tetap hidup dan dikenal di tengah perkembangan zaman.

SMA Galatia Angkat Semangat Persatuan Lewat Drama Sumpah Pemuda

Siswa-siswi SMA Galatia turut mengambil bagian melalui pertunjukan drama yang mengangkat ikrar Sumpah Pemuda.

Drama yang dibawakan siswa kelas XII-1, dengan pendampingan Bu Nanda dan Pak Edi, menjadi bagian dari rangkaian hiburan sekaligus pembelajaran sejarah. Melalui drama tersebut, semangat perjuangan pemuda Indonesia dihadirkan dalam bentuk pertunjukan yang dekat dengan dunia pelajar.

Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Pak Edi yang memberikan warna tersendiri dalam rangkaian acara. Penampilan SMA Galatia menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Sumpah Pemuda tetap relevan bagi generasi sekarang. Persatuan, tanggung jawab, dan semangat membangun bangsa merupakan nilai yang perlu terus dihidupi oleh para pelajar.

Permainan Tradisional Jadi Daya Tarik Utama

Setelah rangkaian pertunjukan seni, kegiatan berlanjut dengan istirahat dan persiapan menuju permainan tradisional. Inilah salah satu bagian yang menjadi daya tarik utama peringatan Hari Sumpah Pemuda di Yayasan Galatia.

Berbagai permainan khas Indonesia yang dahulu akrab dimainkan anak-anak di lingkungan rumah dan halaman kampung kembali dihadirkan. Menariknya, permainan tersebut tidak hanya melibatkan siswa sekolah dasar, tetapi juga siswa SMP dan SMA. Kegiatan permainan berlangsung dengan iringan musik dari pengeras suara, menghadirkan suasana yang menyenangkan dan penuh kebersamaan.

Gobak sodor menjadi salah satu permainan yang melibatkan kelompok siswa dengan nama-nama unik, seperti Bayam, Kangkung, Genjer, Sawi, Selada, dan Terong. Permainan ini mengajak peserta bergerak, menyusun strategi, menjaga kekompakan, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan.

Sementara itu, siswa TK Galatia bersama para guru mengikuti permainan ular naga. Permainan yang identik dengan nyanyian dan gerakan bersama ini menjadi sarana bagi anak-anak untuk belajar berinteraksi, mengikuti aturan, dan membangun kebersamaan.

Siswa kelas 1 dan 2 SD juga mengikuti permainan ular naga dengan pendampingan Bu Maria dan Bu Yustina. Kegiatan ini menghadirkan pengalaman bermain yang sederhana tetapi penuh makna bagi anak-anak.

Untuk siswa kelas 3, 4, dan 5 SD, permainan gundu dan ular tangga menjadi bagian dari kegiatan yang dipandu Pak Bobby dan Lause. Permainan tersebut mengajak peserta mengenal kembali aktivitas tradisional yang pernah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak Indonesia.

Siswa kelas 6 SD mengikuti permainan gundu dan lompat tali dengan pendampingan Bu Eni. Sementara itu, siswa kelas 7 SMP didampingi Miss Ani dalam kegiatan permainan tradisional.

Permainan kotak pos turut melibatkan siswa kelas 8 dan 9 SMP dengan pendampingan Bu Tyas dan Bu Elfra. Permainan ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk menikmati aktivitas bersama yang mengutamakan interaksi dan kegembiraan.

Adapun siswa SMA mengikuti permainan benteng yang dipandu Pak Hilman, Pak Rizki, dan Bu Lina. Peserta dari kelas X, XI-1, XI-2, XII-1, dan XII-2 dibagi dalam kelompok untuk mengikuti permainan yang mengandalkan strategi, kecepatan, kerja sama, dan kekompakan tim.

Keterlibatan siswa dari berbagai jenjang pendidikan memperlihatkan bahwa permainan tradisional dapat menjadi ruang perjumpaan lintas usia. Anak-anak dan remaja belajar bahwa kemenangan bukan satu-satunya tujuan, tetapi kebersamaan, sportivitas, dan kemampuan menghargai teman juga menjadi bagian penting dari permainan.

Budaya Indonesia Hadir dalam Kebersamaan Seluruh Warga Sekolah

Tidak hanya melalui pertunjukan dan permainan, kecintaan terhadap budaya Indonesia juga diwujudkan melalui ketentuan penggunaan pakaian daerah bagi seluruh guru dan siswa.

Setiap siswa TK, SD, SMP, dan SMA Galatia juga diminta membawa empat makanan tradisional dengan dua jenis berbeda. Makanan tersebut dikumpulkan melalui wali kelas dan dibagikan kepada siswa saat waktu istirahat.

Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal keberagaman kuliner tradisional Indonesia sekaligus menikmati kebersamaan dalam suasana perayaan. Dengan menghadirkan pakaian daerah, lagu tradisional, tarian, makanan khas, dan permainan tempo dulu, peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi pengalaman budaya yang menyentuh berbagai aspek kehidupan pelajar.

Menutup Acara dengan Doa dan Kebersamaan

Rangkaian kegiatan  berakhir dengan penutup dan doa. Para guru menari bersama setiap unit, sementara siswa dan guru bernyanyi bersama lagu “Bangun Pemudi Pemuda”. Doa penutup dipimpin oleh guru dari SMP Galatia.

Seluruh kegiatan melibatkan guru dan peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan, dengan pendampingan serta koordinasi sesuai unit masing-masing. Rangkaian acara juga dirancang menyesuaikan kondisi di lapangan agar seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan tertib.

Sumpah Pemuda Bukan Sekadar Sejarah, tetapi Semangat yang Terus Hidup

Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Yayasan Galatia Bekasi menjadi gambaran bahwa pendidikan karakter dapat dikembangkan melalui kegiatan yang menyenangkan, kreatif, dan dekat dengan kehidupan peserta didik.

Melalui upacara bendera, penampilan seni, drama, musik, tarian, hingga permainan tradisional, siswa diajak mengenal kembali identitas bangsa sekaligus membangun kebersamaan di lingkungan sekolah.

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup generasi muda, permainan tradisional tetap memiliki tempat sebagai sarana pembelajaran yang mengajarkan kerja sama, sportivitas, kreativitas, dan interaksi sosial.

Semangat Sumpah Pemuda pun tidak berhenti pada pembacaan ikrar atau perayaan satu hari. Semangat itu terus hidup ketika anak-anak dan remaja belajar menghargai perbedaan, menjaga persatuan, mencintai budaya Indonesia, dan bersama-sama membangun masa depan bangsa.

Reporter/Editor: Ronald O

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *